Sabtu, 08 Januari 2011

Program Acara “ Jika Aku Menjadi”

Tema:Kemiskinan
Objek yang diambil: Kehidupan keluarga tukang reparasi kompor minyak.

Dalam tugas saya kali ini saya mencoba mengkritisi sebuah tayangan televisi yang berjudul “ Jika Aku Menjadi “ dalam episode “Tukang Reparasi Kompor Minyak”.
Saat ini mungkin kompor minyak sudah tidak menjadi bahan bakar utama dalam kehidupan sehari-hari, sulitnya mencari bahan bakar tersebut dan pemakaian yang kurang higienis membuat orang meninggalkan kompor minyak dan beralih ketabung gas yang harganya mudah dijangkau semua kalangan dan juga mudah untuk mendapatkannya. Tetapi untuk keluarga pak tole yang tinggal di Sawahan Depok, minyak tanah menjadi sesuatu yang berharga dalam kelangsungan hidup keluarganya. Pak Tole menggantungkan hidupnya dengan menekuni usaha menjadi tukang reparasi kompor minyak. Kehidupan keluarga pak tole bisa dibilang kurang memadai, sehari-harinya pendapatan yang didapat kurang mencukupi untuk  kebutuhan hidup satu keluarga. Keadaan seperti ini sering kita jumpai, entah didaerah sekitar kita atau tayangan-tayangan televisi yang mengeksploitasi kemiskinan.
Di Indonesia sendiri tayangan-tayangan televisi tentang kemiskinan bisa dibilang sedang tren. Banyak program-program televisi menampilkan kehidupan kemiskinan, hanya saja kemasannya yang berbeda-beda. Seharusnya dengan adanya tayangan-tayangan seperti itu pemerintah Indonesia lebih bisa memperhatikan rakyatnya yang hidup serba kekurangan sehingga pemerintah mampu mencari jalan untuk mengatasinya. Sebagai contoh kecilnya adalah keluarga Pak tole yang sehari-harinya menjadi tukang reparasi kompor minyak. Dari segi ekonomi kehidupan pak tole menengah kebawah dibanding para mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam acara tersebut, tetapi jika kita mau melihat dari sisi lain keluarga pak tole jauh lebih baik dari mahasiswa tersebut yang kesehariannya hanya mengandalkan uang saku dari orang tuanya, walaupun hanya sedikit pendapatan pak tole tetapi jerih payah dengan keringat sendiri jauh lebih memuaskan. Orang akan lebih dihargai jika orang tersebut mempunyai pekerjaan walaupun hasilnya tidak seberapa dibanding dengan orang yang meminta-minta. Dengan kata lain, walaupun kehidupan ekonomi pak tole menengah kebawah dan setiap harinya kebutuhan hidupnya kurang tercukupi tetapi setidaknya pak tole mempunyai pekerjaan yang tetap dan hal tersebut lebih bisa dihargai orang lain.
Tetapi dalam program acara “ Jika Aku Menjadi “ seolah-olah terlalu dibuat-buat dan terlalu didramatisir dalam penyampaiannya, padahal keluarga tersebut terkadang keadaannya tidak separah dalam tayangannya. Jika dibanding dengan mahasiswa yang menjadi pembawa acara disitu terlihat memang keluarga yang diekspose dibawahnya, tetapi dari sisi lain jauh lebih baik keluarga tersebut, seperti halnya diacara tersebut mahasiswa digambarkan menjadi seorang yang manja, tidak pernah hidup susah, tidak pernah bersyukur atas semua yang dia punya. Sehingga acara tersebut terkadang membius para penontonya bawa seperti ini mahasiswa sekarang, hal tersebut akan menjatuhkan image seorang mahasiswa yang pada kenyataannya tidak semua mahasiswa seperti itu. Seperti yang saya bilang tadi, bahwa program acara ini terlalu dibuat-buat dan kadang tidak sesuai dengan realita yang ada, ini semua kembali kestasiun tv pembuat acara yang hanya ingin mencari keuntungan dari program acaranya. Selain itu masyarakat Indonesia pada umumnya memang lebih tertarik pada acara-acara yang berbau kesedihan dan yang bisa membuat para pemirsanya menangis jika melihat tayangan tersebut.
Ironisnya, masyarakat umum terutama masyarakat menengah ke bawah yang sudah tentu awam terhadap duna pertelevisian tak banyak yang tahu bahwa acara realitaas hanyalah kebohongan belaka. Mereka terlalu fanatik dan menganggap bahwa kisah-kisah haru dan dramatik yang kebanyakan ditonjolkan oleh acara-acara realitas memang benar-benar terjadi dengan tanpa adanya skenario.Apalagi pengemasannya yang terbilang bagus dengan didukung tema-tema menarik seperti percintaan, penghianatan, perselingkuhan, dan bahkan hal-hal mistik seperti perdukunan serta hal-hal yang berba religi pun semakin membuat masyarakat seolah-olah tersihir untuk senantiasa menyaksikannya.
Fenomena seperti itulah yang menjadikan acara realitas sebagai kebohongan publik yang nyata dan tentu saja dapat memberikan pengaruh buruk terhadap masyarakat luas, terutama masyarakat yang masih awam terhadap intrik di dunia pertelevisian. Acara-acara realitas yang baru-baru ini membanjiri dunia pertelevisian nasional berhasil memanfaatkan penonton dengan memodifikasi kenyataan, serta menggunakan teknik-teknik pascaproduksi yang seolah-olah menjadikan tiap adegan dalam acara tersebut benar-benar terjadi tanpa adanya rekayasa.
Pada dasarnya, rata-rata penonton yang suka acara semacam ini adalah penonton kelas menengah kebawah yang awam dalam dunia pertelevisian sehingga mudah untuk dibohongi oleh reality show. Disini masyarakat yang sudah mengerti akan hakikat reality show yang kenyataannya hanyalah modifikasi realitas juga sebaiknya ikut andil dalam mensosialisasikan kenyataan tersebut sehingga dampak yang tidak diinginkan tidak akan pernah terelisasai

Dalam program acara “Jika Aku Menjadi” mengangkat tema kemiskinan yang terjadi Indonesia. Setiap harinya dihadirkan sebuah keluarga baru yang dari segi ekonominya menengah kebawah. Dalam program acara ini, ceritanya juga begitu-begitu saja. Mendatangkan sebuah keluarga atau narasumber setelah itu diliput semua kegiatannya. Dari sini akan diperlihatkan begitu kerasnya kehidupan dan perjuangan hidup yang harus dihadapi keluarga tersebut. Nilai plus yang saya tangkap dalam tayangan tersebut, walaupun mereka hidup serba kekurangan dan penghasilan mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, tapi setidaknya mereka mau berusaha dan tidak hanya mengandalkan belas kasih orang lain. Seperti contohnya, keluarga pak tole yang kesehariannya sebagai tukang reparasi kompor minyak. Hidup yang serba kekurangan dan pas-pasan.
Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
  • Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
  • Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
  • Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

Adapun Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan 
  1.  Laju pertumbuhan penduduk
  2. Angka kerja, penduduk yang bekerja dan penduduk yang pengangguran
  3. Distribusi pendapatan dan pemerataan pembangunan
  4. Tingkat pendidikan yang rendah
  5. Kurang perhatian dari pemerintah 
Selain faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan itu ada, saya juga akan menjelaskan penyebab kegagalan. Sering kita jumpai, banyak orang sudah berusaha dengan keras tetapi nasib baik belum berpihak. Ini semua akan saya jelaskan sebagai berikut:


Penyebab kegagalan
Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin.Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan.
Program-program bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program bantuan untuk orang miskin seharusnya lebih difokuskan untuk menumbuhkan budaya ekonomi produktif dan mampu membebaskan ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, program-program bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam penyalurannya.
Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).
Faktor kedua yang dapat mengakibatkan gagalnya program penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak tentang penyebab kemiskinan itu sendiri sehingga program-program pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang penyebabnya berbeda-beda secara lokal

Secara garis besar, kemiskinan yang terjadi di indonesia menjadi masalah yang berkelanjutan dan sulit sekali untuk mengentaskannya. Tetapi setidaknya kita masyarakat indonesia mau berbagi dengan sesama dan selalu bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik lagi.


By: Hanief Novia Pahlevi / 08148133

FENOMENA PENONTON TV BAYARAN dan PEMILIHAN PEJABAT DAERAH SAMPAI PRESIDEN PUN TAK MAU KALAH DENGAN MEMAKAI PEMILIH BAYARAN

Hampir semua acara penonton acara musik,pemain/penonton acara kuis dan pemain reality show adalah pemain bayaran yang di setting atau di atur,Kamis (22/10) pukul 08.00 di pelataran Gedung TransTV. Sekitar 150 anak muda dengan pakaian meniru gaya artis berkerumun di depan panggung musik Derings (TransTV). Posisi mereka ditata sedemikian rupa agar indah jika dibidik kamera dari berbagai sudut. Setiap musik mengentak, mereka sontak berjingkrak. Tanpa komando, mereka langsung lincah. Kehadiran mereka membuat siaran langsung program Derings pagi itu menjadi hidup.
Siapa sebenarnya mereka?
Mereka adalah penonton bayaran yang biasa di hadirkan di sejumlah studio televisi swasta. Indra, misalnya, Kamis pagi, ”tampil” di acara Derings. Sore hari dia ada di TPI ikut dalam pengambilan gambar kontes bintang Starbuzz. Di acara itu dia tidak tampil sebagai penonton yang lincah bergoyang, melainkan juri yang ceriwis.
Begitu pula Cicin (20). Rabu pagi, dia ada di acara Derings, siang di Missing Lyrics (TransTV), dan sore di acara Mantap (ANTV). Malam hari jika diminta, dia bisa nongkrong di studio televisi mana pun.
”Sehari saya bisa ngumpulkan uang Rp 100.000 dari tiga acara. Sebulan penghasilan bersih saya Rp 2,5 juta,” kata Cicin yang tinggal di Pekayon, Bekasi. Orang-orang seperti Cicin dan Indra jumlahnya ribuan. Mereka dikoordinasi para penyalur penonton bayaran, di antaranya Elly Suhari (38) yang akrab disapa Mpok Elly. Ia mengaku setiap hari menggerakkan 500 penonton bayaran ke 6-8 acara televisi. ”Saya tinggal telepon koordinator lapangan, mereka membagi-bagi ’pasukan’ ke studio yang membutuhkan,” kata Mpok Elly yang wajahnya sering muncul di televisi sebagai penonton, peserta kuis, dan pendukung acara komedi.
Elly memiliki 10 koordinator lapangan di Jabodetabek. Merekalah yang bertugas menjaring orang-orang yang ingin menjadi penonton bayaran. ”Dulu susah mencari penonton, sekarang mereka antre mendaftar. Sebagian ingin masuk TV dan mencari jalan jadi artis. Sebagian lagi cari makan,” kata Elly yang terjun sebagai penyalur penonton sejak 2007.
Siapa pun yang mendaftar tidak dia tolak. ”Yang penting, orangnya mau diatur, lincah, dan ramai,” katanya.
Harsono Wahyudi, penyalur penonton lainnya, juga tidak memilih-milih orang yang ingin menjadi penonton bayaran.
”Saya hanya menegaskan kepada mereka bahwa nonton itu kerja, tepuk tangan kerja, dan tidak bergoyang di acara musik itu ’dosa’,” ujar Harsono. Ia terjun ke bisnis ini sejak 2005. Dalam sehari dia menggerakkan 300 orang ke sejumlah acara, antara lain Dahsyat (RCTI) dan Opera Van Java (Trans7).
Calon penonton yang telah direkrut, kata Elly, biasanya diklasifikasikan berdasarkan usia, profesi, dan tampang. Hal ini dia lakukan sebab tiap acara membutuhkan karakter penonton yang berbeda. Elly bercerita, suatu ketika dia diminta mendatangkan penonton berwajah petani untuk acara penyuluhan pertanian.  Harsono juga pernah mendapat permintaan aneh. ”Ada stasiun televisi yang minta dicarikan penonton bertubuh cebol. Pernah juga diminta mencari orang yang wajahnya gampang dirias seperti kuntilanak.
Apa pun permintaan stasiun televisi, agen penonton bayaran selalu berusaha memenuhi. Maklum, putaran uang dari bisnis ini cukup menggiurkan. Elly mengatakan, sebulan dia bisa mengantongi keuntungan Rp 35 juta, sementara Harsono rata- rata Rp 10 juta.
Bagian pertunjukan
Mengapa televisi perlu penonton bayaran? Kepala Divisi PR Marketing TransTV Hadiansyah menjelaskan, penonton sesungguhnya bagian dari pertunjukan. ”Jadi, mereka harus ada. Tanpa penonton, sebuah acara musik, misalnya, tidak akan meriah,”
Stasiun televisi, lanjutnya, tak bisa mengandalkan penonton sukarela sebab mereka sulit diatur. ”Kalau penonton profesional, mereka sudah tahu benar tugasnya.”
GM Programming TPI Endah Hari Utari mengatakan hal senada. ”Kalau tidak ada penonton, pengisi acara juga tidak akan tampil maksimal. Acara jadi tidak hidup,
Persoalannya, mencari penonton yang sukarela datang ke studio sekarang tergolong sulit, apalagi banyak acara yang proses pembuatannya pagi atau tengah malam. Itulah mengapa semua stasiun TV mendatangkan penonton bayaran.
TransTV, kata Hadiansyah, menggunakan jasa penonton yang disalurkan delapan agen. ”Itu kami lakukan agar penontonnya tidak itu-itu saja.”
Begitulah, dunia hiburan TV memang serba artifisial atau buatan. Fenomena penonton bayaran hanyalah salah satunya. Kalau mau jujur, tepuk tangan di acara talk show, kemeriahan di acara variety show, tangis dan tawa di acara kuis, bahkan drama di acara reality show yang mengangkat urusan pribadi, sebagian besar juga hasil rekayasa.
Ironisnya, sebagian besar pemirsa percaya bahwa apa yang ditampilkan televisi adalah realitas sungguhan, apalagi jika nama acaranya diimbuhi ”merek” reality show.

YANG LEBIH IRONISNYA LAGI DALAM PEMILIHAN PRESIDEN SAMPAI PEMILIHAN KEPALA DESA PUN IKUT-IKUTAN MEMAKAI PEMILIH BAYARAN,DAN ITU SUDAH MENJADI RAHASIA UMUM BUAT MASYARAKAT KITA, BENARKAH ITU…?
Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat kita bahwa setiap pemilihan apapun dari pemilihan presiden sampai pejabat daerah itu pasti money politik selalu ikut di dalamnya dan berperan sangat besar dan ironisnya pasti banyak yang menang.
Bapak nanti pemilihan presiden milih apa pak? Tanya saya kepada salah seorang bapak di desa saya,milih yang bayaranya lebih banyak mas,saoalnya yang memberi tidak cuma satu mas jawabnya kepada saya,itu merupakan bukti kecil dar sebagian banyak kasus pemilih bayaran di negri kita.
Saya contohkan lagi seperti Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADAKAB) Kab.Samosir, Sumatra Utara Periode 2010-2015, 09 Juni 2010 terasa sangat tidak sesuai harapan masyarakat, ini diakibatkan disinyalir adanya praktek Money Politc oleh salah satu pasangan dengan melakukan pengerahan massa bayaran dari daerah lain untuk memilih di kabupaten itu.Mengenai pengerahan massa itu telah dilaporkan kepada Panwaslu Samosir dan pihak kepolisian setempat. Masyarakat mengetahui adanya beberapa massa dari luar daerah itu, setelah mereka diamankan di Mapolres Samosir.Para pemilih tersebut sengaja dimobilisasi untuk memenangkan salah satu pasangan calon Bupati Samosir. Peristiwa berawal dari kecurigaan warga atas keberadaan pemilih misterius.Mereka terlihat akan mencoblos di beberapa tempat pemungutan suara. Untuk membuktikan kecurigaan, warga merazia dua titik jalan keluar kabupaten, yakni Jalan Tele dan pelabuhan penyeberangan Tomok.Di Jalan Tele, warga menghentikan sejumlah mobil berisi pemilih usai mencoblos. Setelah diperiksa, puluhan orang mengaku sengaja datang dari luar daerah untuk mencoblos. Bahkan mereka mengaku dibayar oleh salah satu pasangan calon dalam pemilukada Samosir.Seorang warga Kota Medan mengatakan ikut pemilukada bersama puluhan kerabatnya. Menurut pemilih bayangan itu, dirinya mendapat imbalan uang hingga Rp1 juta.Sedangkan di pelabuhan penyeberangan feri Tomok, ratusan pemilih bayaran ditahan saat menyeberang. Mereka mengunakan tiga bus dan dilarang masuk sebelum petugas memeriksa identitas mereka. (Hasil Liputan Metro TV).Sebanyak 150 pemilih bayaran masih diinterogasi warga di wilayah Tomok. Menurut warga, mereka berasal dari wilayah di sekitar Samosir, yaitu Siantar, Medan, dan Simalungun.Ketegangan sempat terjadi karena pasukan TNI dari Kodim 0210 Tapanuli Utara menghalangi usaha warga menginterogasi pemilih bayaran itu. Kekesalan warga menjadi-jadi setelah aparat justru melepas mereka. Kesal, warga menghadang pasukan TNI dari Kodim Tapanuli Utara. Warga meminta pemilih bayaran tersebut diserahkan ke bagian kecurangan panitia pemilihan kepala daerah Samosir.
“Ternyata uang bisa menjadi raja sesaat yang bisa menyuruh siapa saja untuk berbuat sesuai kehendak yang mempunyai uang tersebut
Kalau di biarkan pemilih bayaran(money politik) terus berjalan di negri kita lama kelamaan demokrasi tidak akan berjalan dan datanglah hukum rimba alias  yang kuat yang menang,memangnya negeri kita seperti rimba dan kita juga bukan hewan kan
Lama-lama negri kita bisa di jual juga demi membayar hutang kita kepada negri asing Mau di bawa ke mana negri kita?


Sumber : 1  Kompas.com
               2. Okezone.com

 by : Yusuf Nugroho Nim     :08148136
  
Kamis, 06 Januari 2011

APA KABAR INDONESIA MALAM

Kasus century
Disini akan dikupas dalam acara Apa Kabar Indonesia Malam yang di bawakan oleh Tina Talisa dalam episode masalah pandangan akhir  angket century, episode itu acara begitu meriah dalam openingnya tina talisa terlihat  segar dalam menyambut penonton juga begitu hangat dan bersahabat. Musik dari piano yang mengiringi sangat menyatu dengan acara itu. Seting lokasi  juga sangat rame dan meriah identik dengan warna merah dengan latar belakang kaca transparan sehingga terlihat kesibukan orang-orang di luar. Apa Kabar Indonesia malam di TVOne dalam episode ini.
Disini yang akan di kupas lebih dalam tentang pembawaan Tina Talisa saat memandu acara Apa Kabar Indonesia Malam di TVOne. Di episode pandangan akhir  angket centuri ini Tina Talisa berinteraktif dengan Medina Rahma  reporter TVOne yang sedang meliput di gedung DPR RI saat anggota DPR RI melangsungkan rapat angket Century. Saat Medina Rahma  memberi laporan kepada Tina Talisa tentang berjalanya sidang tentang pandangan akhir kasus century dan medina Rahma memberi tahukan tentang jalanya sidang menyebut nama atau tidak tiba-tiba Tina Talisa memotong laporan dari Medina Rahma  sebagai reporter di lapangan dan di beri pertanyaan baru. Apa yang di lakukan Tina Talisa memotong laporan dari Medina Rahma  begitu mengganjal dan transisinya saat ingin memberi pertanyaan begitu kasar kurang halus, saya sebagai pemirsa di rumah merasa ada yang kurang karena saya baru ingin mengikuti laporan dari Medina Rahma tentang apa yang terjadi saat anggota DPR  sidang tentang penyebutan nama atau tidak masalah kasus centuri, tiba-tiba di potong oleh Tina Talisa sehingga informasi yang saya ikuti ada yang kurang dan begitu ganjil.
Hal seperti itu menurut saya bukan hanya terjadi pada saya saja melainkan kepada semua  pemirsa di rumah yang mengikuti acara Apa Kabar Indonesia dengan benar-benar memperhatikan jalanya acara itu. Sementara laporan dari reporter di lapangan sangat penting dan apa bila ada laporan yang kurang atau terpotong juga akan menyebabkan asumsi pemirsa di rumah berbeda dengan kejadian yang sebenarnya.

Seharusnya Tina Talisa memberi pertanyaan yang lebih halus mungkin saat  Medina Rahma  jeda memberi laporan kalaupun tidak Tina Talisa memotong laporan dari Medina Rahma dan memberi pertanyaan yang mempunyai kontinitas dalam artian pertanyaan dari Tina Talisa itu berkesinambungan dengan pernyataan yang tadi dipotong. Hal seperti itu juga tidak terjadi dalam episode ini saja tapi hampir di setiap saya mengikuti acara ini Tina Talisa selalu memotong laporan-laporan dari reporter bahkan dari bintang tamu. Menurut saya Tina Talisa melakukan pemotongan pembicaraan dengan tujuan mempersingkat waktu tapi  yang dilakukan Tina Talisa tidak memberi transisi sebuah acara yang halus dan begitu kasar bahkan begitu ganjil dan saya sebagai pemirsa di rumah merasa ada informasi yang terpotong dan kurang.
Jadi dalam episode itu acara berlangsung terkesan rancu dan tergesa-gesa jadi saya sebagai pemirsa kurangbegitu bisa menikmati. Apa lagi dalam acara dis kusi berlangsung disitu ada beberapa bintang tamu dari beberapa DPR dari perwakilan fraksi dan pengamat politik antara lain Fahri Hamza dari Fraksi PKS.  Saat Fahri Hamza dari Fraksi PKS memberi pernyataan dari pertanyaan Tina Talisa tentang loby-loby penyebutan nama ataupun tidak tiba-tiba Tina Talisa  memberi pertanyaan begitu ringan sebelumnya mint,  maaf tidak mengurangi rasa hormat pertanyaan itu kurang bermutu dan seakan terkesan Tina Talisa kurang merespon dengan serius, tujuan Tina Talisa mungkin sedikit bercanda agar acara itu lebih terkesan santai tapi kurang menarik disaat Fahri Hamza dari Fraksi PKS memberi pernyataan yang serius dan begitu berat dengan bahasa politisi tapi Tina Talisa meresponya dengan pernyataan yang begitu ringan dan dengan ekspresi becanda sementara itu masalah bangsa.
Sehabis iklan masuk diacara Apa Kabar indonersia Malam Tina Talisa membuka acara dengan informasi seorang pencuri kabel ingin bunuh diri di tower karena takut di kroyok oleh masa yang akhirnya bisa diamankan oleh polisi. Tina Talisa memberi pernyataan bahwa akir dari maling kabel itu happy anding, berakhir dengan bahagia saya sempat heran kenapa Tina Talisa memberi pernyataan seperti itu saya berpandangan bahwa maling itu tidak berakhir bahagia karena kalo tidak mencoba bunuh diri maling kabel itu di hakimi masa resikonya juga mati, maling kabel itu akhirnya turun dari tower dan menyerahkan diri kepada poloisi tapi pandangan saya itu juga tidak berahir bahagia karena si malin kabel itu menyerahkan diri yang akhirnya dia juga akan dipenjara.
Sangat aneh dan begitu janggal disaat Tina Talisa tadi membahas tentang kasus bank century yang dikorupsi meliyaran rupiah dengan santainya dan selalu dengan senyum indahnya tapi di saat memberi penjelasan pada liputan maling kabel yang mau bunuh diri karena takut di hakimi masa yang akhirnya menyerahkan diri kepada polisi Tina Talisa memberi pernyataan bahwa itu berahir bahagia. Apa yang diungkapkan Tina Talisa itu seakan tidak melihat sebuah masalah dari segi kemanusiaan bahkan seperti tontonan. Dari kasus korupsi bank century meliyaran rupiah dan di bandingkan dengan Maling kabel.
Sehabis liputan maling kabel itu tiba-tiba Tina Talisa mengalihkan pembahasan ke kasus bank century lagidan disitu tanpa ada transisi dari liputan maling kabel ke pembahasan pertama yaitu kasus bank century. Dengan adanya liputan maling kabel itu juga akan menjadikan pemirsa sedikit kaco karena saya yang sering mengikuti acara Apa Kabar indonesia Malam kadang dikacokan oleh liputan itu karena saya kira pembahasan dalam diskusi yang akan berlansung berkaitan dengan liputan yang sedang ditayangkan ternyata tidak maka saya jadi kurang fokus dan saya sebagai pemirsa akan pindah setasiun televisi lain karena jadi tidak fokus dan tudak mood lagi di saat antara liputan dan pembahasanya kurang seimbang. Apa lagi liputan  maling kabel itu sudah ditayangkan di bebrapa acara brita berkali-kali di siang  harinya jadi bisa di bilang liputan maling kabel diacara Apa Kabar Indonesia itu hanya sebatas basa basi saja agar acara itu terlihat berbeda namun buat pemirsa di rumah dengan adanya liputab itu membuat pemirsa di rumah tidak fokus mengikuti jalanya diskusi.
Sehabis liputan pencuri kabel itu tiba-tiba Tina Talisa membahas tentang kasus bank century seperti di pembahasan awal tanpa ada transisi. Harusnya Tina Talisa memanfaatkan liputan itu untuk menjadu jembatan dari maling kabel ke kasus yang lebih besar yaitu korupsi bank centuri dengan dana meliyaran rupiah walau itu kasus yang sangat kontras dan berbeda tapi lebih indahnya apabila Tina Talisa mampu mencari kesamaan dari kedua kasus itu antara pencuri kabel dan kasus korupsi bank century itu sama-sam pencurianya yang satu pencurian kabel pencurian aset negara maling itu melakukan itu karena tuntutan perutnya dirinya kalopun sudah ber kluarga berarti tuntutan perut untuk dirinya, istri, dan anaknya, sementara pelaku korupsi bank century atas dasar kepentingan untuk kaya, politik dan lain-lain yang merugikan bangsa indonesia. Apa bila Tina Talisa bisa menggunakan liputan itu menjadi jembatan dan mencari persamaan dari kedua kasus itu kan lebih indah.
Tapi saya sebagai pemirsa di rumah berpendapat liputan yang di tayangkan itu hanya sekedar basa-basi malah membuat rancu jalanya diskusi saat berlangsung dan seandainya liputan itu tidak ditayangkan juga tidak mengurangi isi dan maksut dari jalanya acara itu sendiri. Dengan adanya liputan saat mau masuk acara malah terkesan rancu dimana Apa Kabar Indonesia Malam sering mengangkat tema yang berganti-ganti dan berbeda-beda pula juga berbeda-beda narasumber. Menurut saya tidak perlu ditayangkanya liputan-liputan yang  tidak ada hubunganya dengan tema diskusi yang sedang berlangsung. Apa lagi liputan-liputan brita yang ditayangkan sudah di tayangkan berkali-kali. Menurut saya kenapa Tina Talisa kadang memotong pembicaraan dan terkesan terburu-buru karena banyak susunan acaranya sementara waktu terbatas sehingga Tina Talisa terkesan agak tergesa-gesa dalam membawakan acara Apa Kabar Indonesia Malam.
 Tapi pernyataan saya pribadi itu  juga saya imbangi dengan pernyataan lain kadang saya pribadi berpikir, dengan sikap Tina Talisa yang suka memotong laporan dari reporter yang ada di lapangan seperti saat Tina Talisa menerima laporan dari reporter Medina Rahma  yang ada di gedung DPR RI dan laporan itu di potong dan Tina Talisa langsung bertanya dengan Medina Rahma , saat Fahri Hamza dari Fraksi PKS juga saat memberi peryataanya dari pertanyaan Tina Talisa tiba-tiba juga dipotong juga apa jangan-jangan sikap Tina Talisa bermaksut untuk membentuk opini pemirsa di rumah dan juga membentuk opini pemirsa di rumah untuk merujuk pada satu gagasan dan pandangan tertentu kepada kasus bank century.

Tina Talisa dalam memberikan porsi pertanyaan juga kurang bijak karena dalam acara yang saya kupas ini porsi pertanyaan lebih banyak kepada Fahri Hamza dari Fraksi PKS dia anggota DPR RI yang partainya berkoalisi dengan partai penguasa melainkan partainya bertolak belakang dengan partai koalisinya. Tapi anggota DPR RI yang partainya memilih jalan seperti partainya Fahri Hamza juga ada sebagai nara sumber seperti Edi Komarudin dari Fraksi Paratai GOLKAR. Tapi kenapa porsi pertanyaan lebih banyak kepada Fahri Hamza dari fraksi PKS. Fahri Hamza dari fraksi PKS dalam satu segmen diisi dari pernyataanya sementara segmen kedua diisib liputan dan tiga pernyataan dari Hendrawan Supratiknio dari Fraksi PDI Perjuangan, Edi Komarudin dari Fraksi Paratai GOLKAR, dan Cipta Lesmana sebagai Pengamat Komunikasi Politik. Sehingga saya mengikuti acara itu kuarng puas dalam mengikuti jalanya diskusi.


BY : Singgih Arif Kusnadi/08148112