Sabtu, 08 Januari 2011

FENOMENA PENONTON TV BAYARAN dan PEMILIHAN PEJABAT DAERAH SAMPAI PRESIDEN PUN TAK MAU KALAH DENGAN MEMAKAI PEMILIH BAYARAN

Hampir semua acara penonton acara musik,pemain/penonton acara kuis dan pemain reality show adalah pemain bayaran yang di setting atau di atur,Kamis (22/10) pukul 08.00 di pelataran Gedung TransTV. Sekitar 150 anak muda dengan pakaian meniru gaya artis berkerumun di depan panggung musik Derings (TransTV). Posisi mereka ditata sedemikian rupa agar indah jika dibidik kamera dari berbagai sudut. Setiap musik mengentak, mereka sontak berjingkrak. Tanpa komando, mereka langsung lincah. Kehadiran mereka membuat siaran langsung program Derings pagi itu menjadi hidup.
Siapa sebenarnya mereka?
Mereka adalah penonton bayaran yang biasa di hadirkan di sejumlah studio televisi swasta. Indra, misalnya, Kamis pagi, ”tampil” di acara Derings. Sore hari dia ada di TPI ikut dalam pengambilan gambar kontes bintang Starbuzz. Di acara itu dia tidak tampil sebagai penonton yang lincah bergoyang, melainkan juri yang ceriwis.
Begitu pula Cicin (20). Rabu pagi, dia ada di acara Derings, siang di Missing Lyrics (TransTV), dan sore di acara Mantap (ANTV). Malam hari jika diminta, dia bisa nongkrong di studio televisi mana pun.
”Sehari saya bisa ngumpulkan uang Rp 100.000 dari tiga acara. Sebulan penghasilan bersih saya Rp 2,5 juta,” kata Cicin yang tinggal di Pekayon, Bekasi. Orang-orang seperti Cicin dan Indra jumlahnya ribuan. Mereka dikoordinasi para penyalur penonton bayaran, di antaranya Elly Suhari (38) yang akrab disapa Mpok Elly. Ia mengaku setiap hari menggerakkan 500 penonton bayaran ke 6-8 acara televisi. ”Saya tinggal telepon koordinator lapangan, mereka membagi-bagi ’pasukan’ ke studio yang membutuhkan,” kata Mpok Elly yang wajahnya sering muncul di televisi sebagai penonton, peserta kuis, dan pendukung acara komedi.
Elly memiliki 10 koordinator lapangan di Jabodetabek. Merekalah yang bertugas menjaring orang-orang yang ingin menjadi penonton bayaran. ”Dulu susah mencari penonton, sekarang mereka antre mendaftar. Sebagian ingin masuk TV dan mencari jalan jadi artis. Sebagian lagi cari makan,” kata Elly yang terjun sebagai penyalur penonton sejak 2007.
Siapa pun yang mendaftar tidak dia tolak. ”Yang penting, orangnya mau diatur, lincah, dan ramai,” katanya.
Harsono Wahyudi, penyalur penonton lainnya, juga tidak memilih-milih orang yang ingin menjadi penonton bayaran.
”Saya hanya menegaskan kepada mereka bahwa nonton itu kerja, tepuk tangan kerja, dan tidak bergoyang di acara musik itu ’dosa’,” ujar Harsono. Ia terjun ke bisnis ini sejak 2005. Dalam sehari dia menggerakkan 300 orang ke sejumlah acara, antara lain Dahsyat (RCTI) dan Opera Van Java (Trans7).
Calon penonton yang telah direkrut, kata Elly, biasanya diklasifikasikan berdasarkan usia, profesi, dan tampang. Hal ini dia lakukan sebab tiap acara membutuhkan karakter penonton yang berbeda. Elly bercerita, suatu ketika dia diminta mendatangkan penonton berwajah petani untuk acara penyuluhan pertanian.  Harsono juga pernah mendapat permintaan aneh. ”Ada stasiun televisi yang minta dicarikan penonton bertubuh cebol. Pernah juga diminta mencari orang yang wajahnya gampang dirias seperti kuntilanak.
Apa pun permintaan stasiun televisi, agen penonton bayaran selalu berusaha memenuhi. Maklum, putaran uang dari bisnis ini cukup menggiurkan. Elly mengatakan, sebulan dia bisa mengantongi keuntungan Rp 35 juta, sementara Harsono rata- rata Rp 10 juta.
Bagian pertunjukan
Mengapa televisi perlu penonton bayaran? Kepala Divisi PR Marketing TransTV Hadiansyah menjelaskan, penonton sesungguhnya bagian dari pertunjukan. ”Jadi, mereka harus ada. Tanpa penonton, sebuah acara musik, misalnya, tidak akan meriah,”
Stasiun televisi, lanjutnya, tak bisa mengandalkan penonton sukarela sebab mereka sulit diatur. ”Kalau penonton profesional, mereka sudah tahu benar tugasnya.”
GM Programming TPI Endah Hari Utari mengatakan hal senada. ”Kalau tidak ada penonton, pengisi acara juga tidak akan tampil maksimal. Acara jadi tidak hidup,
Persoalannya, mencari penonton yang sukarela datang ke studio sekarang tergolong sulit, apalagi banyak acara yang proses pembuatannya pagi atau tengah malam. Itulah mengapa semua stasiun TV mendatangkan penonton bayaran.
TransTV, kata Hadiansyah, menggunakan jasa penonton yang disalurkan delapan agen. ”Itu kami lakukan agar penontonnya tidak itu-itu saja.”
Begitulah, dunia hiburan TV memang serba artifisial atau buatan. Fenomena penonton bayaran hanyalah salah satunya. Kalau mau jujur, tepuk tangan di acara talk show, kemeriahan di acara variety show, tangis dan tawa di acara kuis, bahkan drama di acara reality show yang mengangkat urusan pribadi, sebagian besar juga hasil rekayasa.
Ironisnya, sebagian besar pemirsa percaya bahwa apa yang ditampilkan televisi adalah realitas sungguhan, apalagi jika nama acaranya diimbuhi ”merek” reality show.

YANG LEBIH IRONISNYA LAGI DALAM PEMILIHAN PRESIDEN SAMPAI PEMILIHAN KEPALA DESA PUN IKUT-IKUTAN MEMAKAI PEMILIH BAYARAN,DAN ITU SUDAH MENJADI RAHASIA UMUM BUAT MASYARAKAT KITA, BENARKAH ITU…?
Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat kita bahwa setiap pemilihan apapun dari pemilihan presiden sampai pejabat daerah itu pasti money politik selalu ikut di dalamnya dan berperan sangat besar dan ironisnya pasti banyak yang menang.
Bapak nanti pemilihan presiden milih apa pak? Tanya saya kepada salah seorang bapak di desa saya,milih yang bayaranya lebih banyak mas,saoalnya yang memberi tidak cuma satu mas jawabnya kepada saya,itu merupakan bukti kecil dar sebagian banyak kasus pemilih bayaran di negri kita.
Saya contohkan lagi seperti Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADAKAB) Kab.Samosir, Sumatra Utara Periode 2010-2015, 09 Juni 2010 terasa sangat tidak sesuai harapan masyarakat, ini diakibatkan disinyalir adanya praktek Money Politc oleh salah satu pasangan dengan melakukan pengerahan massa bayaran dari daerah lain untuk memilih di kabupaten itu.Mengenai pengerahan massa itu telah dilaporkan kepada Panwaslu Samosir dan pihak kepolisian setempat. Masyarakat mengetahui adanya beberapa massa dari luar daerah itu, setelah mereka diamankan di Mapolres Samosir.Para pemilih tersebut sengaja dimobilisasi untuk memenangkan salah satu pasangan calon Bupati Samosir. Peristiwa berawal dari kecurigaan warga atas keberadaan pemilih misterius.Mereka terlihat akan mencoblos di beberapa tempat pemungutan suara. Untuk membuktikan kecurigaan, warga merazia dua titik jalan keluar kabupaten, yakni Jalan Tele dan pelabuhan penyeberangan Tomok.Di Jalan Tele, warga menghentikan sejumlah mobil berisi pemilih usai mencoblos. Setelah diperiksa, puluhan orang mengaku sengaja datang dari luar daerah untuk mencoblos. Bahkan mereka mengaku dibayar oleh salah satu pasangan calon dalam pemilukada Samosir.Seorang warga Kota Medan mengatakan ikut pemilukada bersama puluhan kerabatnya. Menurut pemilih bayangan itu, dirinya mendapat imbalan uang hingga Rp1 juta.Sedangkan di pelabuhan penyeberangan feri Tomok, ratusan pemilih bayaran ditahan saat menyeberang. Mereka mengunakan tiga bus dan dilarang masuk sebelum petugas memeriksa identitas mereka. (Hasil Liputan Metro TV).Sebanyak 150 pemilih bayaran masih diinterogasi warga di wilayah Tomok. Menurut warga, mereka berasal dari wilayah di sekitar Samosir, yaitu Siantar, Medan, dan Simalungun.Ketegangan sempat terjadi karena pasukan TNI dari Kodim 0210 Tapanuli Utara menghalangi usaha warga menginterogasi pemilih bayaran itu. Kekesalan warga menjadi-jadi setelah aparat justru melepas mereka. Kesal, warga menghadang pasukan TNI dari Kodim Tapanuli Utara. Warga meminta pemilih bayaran tersebut diserahkan ke bagian kecurangan panitia pemilihan kepala daerah Samosir.
“Ternyata uang bisa menjadi raja sesaat yang bisa menyuruh siapa saja untuk berbuat sesuai kehendak yang mempunyai uang tersebut
Kalau di biarkan pemilih bayaran(money politik) terus berjalan di negri kita lama kelamaan demokrasi tidak akan berjalan dan datanglah hukum rimba alias  yang kuat yang menang,memangnya negeri kita seperti rimba dan kita juga bukan hewan kan
Lama-lama negri kita bisa di jual juga demi membayar hutang kita kepada negri asing Mau di bawa ke mana negri kita?


Sumber : 1  Kompas.com
               2. Okezone.com

 by : Yusuf Nugroho Nim     :08148136
  

0 komentar:

Posting Komentar

About Me

Foto Saya
kovetyellow
Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia
Look At Me FB : donkovetyellow@yahoo.com
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.

Look This

Loading...
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Amazon MP3 Clips

Classic Clock

Yahoo News: Top Stories

Wic Wac Woe

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Cute Puppy Pictures

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Pictures of Lighthouses

Ada kesalahan di dalam gadget ini